Beranda Berita Opini

Tidore di Persimpangan: Mengakhiri Era Seremonial, Menjemput Era Hilirisasi

Tidore di Persimpangan: Mengakhiri Era Seremonial, Menjemput Era Hilirisasi
(Desain Visual oleh Farija A. Rahim)

Tidore Kepulauan sedang memikul beban sejarah sekaligus peluang masa depan. Sebagai wilayah yang diberkati dengan kekayaan agrikultur—tercatat produksi kelapa mencapai 9.500 ton per tahun—dan posisi strategis sebagai bagian dari ibu kota provinsi, Tidore seharusnya tidak lagi menjadi penonton dalam panggung ekonomi nasional. Namun, hingga hari ini, orientasi ekonomi daerah masih tampak terjebak pada pola lama: menjual komoditas mentah dan menggantungkan harapan pada belanja yang bersifat administratif.

Narasi Transformasi: Membaca Potensi dari Akar

Bayangkan seorang pengusaha muda lokal di Tidore yang mampu memutus rantai ketergantungan ini. Ia tidak sekadar berjualan kopra, melainkan membangun industri briket arang batok kelapa di kawasan Akelamo. Dengan memanfaatkan limbah tempurung yang selama ini terbengkalai, ia menciptakan produk bernilai ekspor. Ini adalah antitesis dari narasi hilirisasi nasional yang sering kali terobsesi dengan proyek tambang skala masif yang eksploitatif. Hilirisasi Tidore harus bersifat "kolektif dan bernilai tambah"—mengolah apa yang sudah kita miliki menjadi produk jadi yang berdaya saing global.

Konsep Sentra Industri: Mengubah "Katalog" Menjadi Realitas

Merujuk pada Katalog Investasi Kota Tidore Kepulauan, potensi pengolahan cengkeh menjadi minyak atsiri atau penyediaan cold storage untuk perikanan tuna adalah instrumen produktif yang sangat menjanjikan. Namun, sebuah rencana hanyalah deretan huruf jika tidak disokong oleh keberpihakan anggaran.

Berdasarkan Perda APBD 2026, total Belanja Daerah ditetapkan sebesar Rp969,12 miliar. Sangat disayangkan jika porsi belanja masih didominasi oleh operasional (mencapai Rp792,19 miliar). Tidore membutuhkan keberanian untuk melakukan pergeseran paradigma anggaran. Pemerintah kota harus berhenti berperan sebagai pemborong proyek seremonial dan beralih menjadi fasilitator infrastruktur produktif. Pembangunan cold storage, laboratorium pengujian mutu, dan jaringan logistik terpadu adalah investasi nyata yang akan melipatgandakan multiplier effect ekonomi, jauh melampaui dampak dari kegiatan-kegiatan seremonial tahunan.

Landasan Teoretis: Kunci Peningkatan PAD

Secara teoretis, langkah ini didukung oleh Teori Keunggulan Komparatif yang dipadukan dengan konsep Economic Multiplier Effect. Ketika komoditas diolah di tempat asal, nilai tambah (added value) akan terkunci di daerah tersebut, memperluas basis pajak, dan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara organik. Daerah yang resilien adalah daerah yang mampu melakukan penutupan rantai pasok secara mandiri, bukan yang terus-menerus mengirim bahan mentah ke luar untuk kemudian membeli kembali produk jadinya dengan harga mahal.

ESG sebagai Kompas Moral

Tentu, hilirisasi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance). Hilirisasi di Tidore harus menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek ekonomi, bukan hanya buruh. Kita harus memastikan bahwa setiap investasi yang masuk tetap ramah lingkungan dan dikelola dengan tata kelola yang transparan. Inilah komitmen yang akan menjamin bahwa kemajuan ekonomi Tidore bersifat inklusif dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Sebuah Kritik Terbuka

Catatan kritis bagi pemerintah: Rencana investasi yang dipaparkan dalam katalog sering kali masih bersifat normatif. Tanpa adanya feasibility study yang komprehensif dan integrasi dengan anggaran modal yang memadai, rencana tersebut rentan menjadi dokumen pajangan semata.

Pemerintah Kota Tidore harus segera mengevaluasi dominasi belanja operasional dan mulai memprioritaskan instrumen produktif yang memiliki payback period jelas. Sudah saatnya Tidore berhenti memoles citra melalui seremoni dan mulai berinvestasi pada mesin penggerak ekonomi. Jika tidak, Tidore hanya akan tetap menjadi kota yang "berpotensi" tanpa pernah benar-benar "berproduksi". Masa depan ekonomi kita ditentukan oleh keberanian untuk beralih dari belanja yang habis dikonsumsi menjadi investasi yang terus memberikan nilai tambah bagi rakyat.

Rekomendasi Merchandise

Miliki T-Shirt Official PERS HIPMIN - Stop Kriminalisasi Pejuang Lingkungan

Kaos eksklusif PERS HIPMIN berbahan Cotton Combed 30s premium dengan sablon plastisol tahan lama. Tersedia ukuran S, M,...

Rp 100.000
Beli Sekarang
T-Shirt Official PERS HIPMIN - Stop Kriminalisasi Pejuang Lingkungan
Penulis: Shidiq Minwar Al-Amin
Editor: Tim Redaksi