MAKASSAR – Musyawarah Besar (Mubes) XXXVI Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Nuku (HIPMIN) Makassar didorong menjadi ruang pertarungan gagasan dan refleksi organisasi, bukan sekadar agenda memilih pemimpin baru. Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian pembukaan Mubes XXXVI HIPMIN Makassar yang digelar di Asrama Nuku, Makassar, Rabu (15/7/2026).
Musyawarah Besar yang mengusung tema "Mengokohkan Fondasi Organisasi Melalui Deliberasi Menuju Kepemimpinan Visioner yang Berkelanjutan" itu berlangsung selama lima hari hingga Ahad (19/7/2026). Forum tersebut menjadi momentum bagi anggota HIPMIN Makassar untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah kepemimpinan pada periode berikutnya.
Dewan Senior HIPMIN Makassar, Ardi Mahrifal, menegaskan bahwa Musyawarah Besar tidak boleh dimaknai sebatas kompetisi memperebutkan kepemimpinan, tetapi harus menjadi ruang menguji dan mempertukarkan gagasan demi kemajuan organisasi.
"Musyawarah HIPMIN Makassar itu bukan hanya pertentangan gagasan dan kompetisi dalam persaingan meraih kepemimpinan di HIPMIN Makassar. Tapi bagaimana semua otak yang ada di dalam anggota HIPMIN Makassar itu harus diakumulasi dan harus dipertentangkan dalam forum musyawarah itu sendiri," ujarnya.
Menurut Ardi, hasil musyawarah juga harus mampu menjawab berbagai persoalan daerah sehingga organisasi tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
"Saya mengharapkan bahwa di Musyawarah ke-XXXVI ini, teman-teman HIPMIN Makassar harus lebih progresif, terutama isu-isu yang berkaitan dengan pembangunan Kota Tidore Kepulauan dan juga pembangunan Maluku Utara, bahkan nasional," katanya.
Senada dengan itu, perwakilan Dewan Musyawarah HIPMIN Makassar, Aldy Latoge, menilai Musyawarah Besar merupakan momentum untuk memperkuat fondasi organisasi yang tidak dibatasi oleh jabatan, tetapi tumbuh dari kepedulian setiap anggota terhadap HIPMIN Makassar.
"Kepedulian kita dalam ber-HIPMIN itu bukan berarti ketika terikat dengan suatu jabatan," ujarnya.
Ia berharap forum musyawarah mampu melahirkan kepemimpinan yang tetap berpegang pada nilai, tujuan, dan cita-cita organisasi.
"Saya berharap bahwa Musyawarah Besar ini akan berjalan dengan lancar secara musyawarah dan mendapatkan satu pemimpin yang akan membawa HIPMIN Makassar sesuai dengan apa yang diharapkan," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Umum HIPMIN Makassar, Az-zahrah, mengingatkan bahwa Musyawarah Besar merupakan ruang evaluasi dan pengambilan keputusan bersama yang menuntut kedewasaan seluruh anggota dalam menyikapi setiap perbedaan pandangan.
"Di forum inilah kita menguji kedewasaan dalam berorganisasi, menghargai pendapat, perbedaan, serta mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok," tuturnya.
Melalui Musyawarah Besar XXXVI, HIPMIN Makassar diharapkan tidak hanya melahirkan kepemimpinan baru, tetapi juga menghasilkan dialektika, rekomendasi, dan arah gerak organisasi yang mampu menjawab tantangan internal maupun berbagai persoalan strategis di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, hingga tingkat nasional.